KOMPAS.com - Sejarah manusia, sebagaimana direkam dalam tradisi Islam, tidak dibuka dengan kisah kejayaan, melainkan dengan tragedi.
Tragedi itu bermula dari dua putra Nabi Adam AS yaitu, Habil dan Qabil. Keduanya lahir dari rahim yang sama, tumbuh dalam keluarga yang sama, dan dibesarkan di bawah bimbingan seorang nabi. Namun justru dari kedekatan itulah, konflik pertama manusia muncul.
Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, Nabi Adam AS memiliki kebiasaan menikahkan anak-anaknya secara silang.
Qabil yang lahir bersama saudari kembarnya bernama Iqlima disebut memiliki paras yang lebih menawan, keberatan ketika harus menikah dengan saudari kembar Habil yaitu Labuda. Dari sinilah benih kecemburuan dan penolakan terhadap ketetapan Tuhan mulai tumbuh.
Baca juga: Pelajaran Hidup dari Nabi Adam AS: Godaan, Kesalahan, dan Taubat
Untuk menyelesaikan perselisihan, Nabi Adam AS meminta kedua putranya mempersembahkan kurban kepada Allah SWT.
Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak menikahi Iqlima. Habil, seorang penggembala, mempersembahkan hewan ternak terbaik yang dimilikinya. Qabil, seorang petani, justru mempersembahkan hasil panen yang buruk.
Alquran mencatat dengan tegas bahwa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.
Kurban Habil diterima, sementara kurban Qabil ditolak. Penolakan itu bukan sekadar kegagalan ritual, melainkan pukulan telak bagi ego Qabil.
Rasa iri berubah menjadi amarah dan amarah berkembang menjadi niat paling gelap dalam sejarah manusia.
Baca juga: Doa Taubat Nabi Adam AS: Arab, Latin, dan Artinya
Qabil tidak menerima kenyataan itu. Ia mengancam akan membunuh saudaranya sendiri. Habil, dengan ketenangan moral yang kontras, menolak membalas ancaman tersebut.
Ia menyatakan bahwa ia tidak akan mengangkat tangan untuk membunuh, karena takut kepada Allah.
Namun kecemburuan telah menutup nurani. Dalam keadaan yang digambarkan Al-Qur’an sebagai dorongan nafsu, Qabil akhirnya membunuh Habil.
Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, bukan karena perebutan wilayah atau kekuasaan, melainkan karena hasrat, iri, dan ketidakmampuan menerima keadilan Tuhan.
Setelah membunuh saudaranya, Qabil diliputi kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa terhadap jasad Habil.
Allah kemudian memperlihatkan seekor burung gagak yang menggali tanah untuk mengubur bangkai gagak lain. Dari peristiwa sederhana itu, Qabil belajar cara menguburkan mayat saudaranya.
Namun pengetahuan itu datang bersama penyesalan. Qabil menyadari bahwa kejahatan tidak hanya merenggut nyawa saudaranya, tetapi juga menghancurkan kemanusiaannya sendiri. Penyesalan itu abadi, tetapi tidak mampu menghapus dosa.
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan
Kisah Habil dan Qabil bukan sekadar cerita tentang konflik keluarga. Ia adalah cermin tentang watak dasar manusia.
Habil mewakili iman, keikhlasan, dan kepatuhan pada ketentuan Tuhan. Qabil mewakili hasrat, ego, dan penolakan terhadap keadilan ilahi.
Dalam konteks kehidupan modern, kisah ini terasa relevan. Banyak konflik sosial, politik, bahkan kekerasan, berakar pada persoalan serupa, di mana kecemburuan, ketidakadilan yang dirasa subjektif, dan kegagalan mengendalikan nafsu.
Tragedi Habil dan Qabil mengingatkan bahwa kejahatan besar sering lahir bukan dari orang asing, melainkan dari lingkar terdekat.
Dan iman, pada akhirnya, bukan hanya soal keyakinan, melainkan kemampuan menahan diri ketika keinginan bertabrakan dengan kebenaran.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang