Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Habil dan Qabil: Awal Permusuhan Manusia

Kompas.com, 5 Januari 2026, 10:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sejarah manusia, sebagaimana direkam dalam tradisi Islam, tidak dibuka dengan kisah kejayaan, melainkan dengan tragedi.

Tragedi itu bermula dari dua putra Nabi Adam AS yaitu, Habil dan Qabil. Keduanya lahir dari rahim yang sama, tumbuh dalam keluarga yang sama, dan dibesarkan di bawah bimbingan seorang nabi. Namun justru dari kedekatan itulah, konflik pertama manusia muncul.

Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, Nabi Adam AS memiliki kebiasaan menikahkan anak-anaknya secara silang.

Qabil yang lahir bersama saudari kembarnya bernama Iqlima disebut memiliki paras yang lebih menawan, keberatan ketika harus menikah dengan saudari kembar Habil yaitu Labuda. Dari sinilah benih kecemburuan dan penolakan terhadap ketetapan Tuhan mulai tumbuh.

Baca juga: Pelajaran Hidup dari Nabi Adam AS: Godaan, Kesalahan, dan Taubat

Kurban yang Membelah Takdir

Untuk menyelesaikan perselisihan, Nabi Adam AS meminta kedua putranya mempersembahkan kurban kepada Allah SWT.

Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak menikahi Iqlima. Habil, seorang penggembala, mempersembahkan hewan ternak terbaik yang dimilikinya. Qabil, seorang petani, justru mempersembahkan hasil panen yang buruk.

Alquran mencatat dengan tegas bahwa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.

Kurban Habil diterima, sementara kurban Qabil ditolak. Penolakan itu bukan sekadar kegagalan ritual, melainkan pukulan telak bagi ego Qabil.

Rasa iri berubah menjadi amarah dan amarah berkembang menjadi niat paling gelap dalam sejarah manusia.

Baca juga: Doa Taubat Nabi Adam AS: Arab, Latin, dan Artinya

Ketika Iri Menjadi Kejahatan

Qabil tidak menerima kenyataan itu. Ia mengancam akan membunuh saudaranya sendiri. Habil, dengan ketenangan moral yang kontras, menolak membalas ancaman tersebut.

Ia menyatakan bahwa ia tidak akan mengangkat tangan untuk membunuh, karena takut kepada Allah.

Namun kecemburuan telah menutup nurani. Dalam keadaan yang digambarkan Al-Qur’an sebagai dorongan nafsu, Qabil akhirnya membunuh Habil.

Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, bukan karena perebutan wilayah atau kekuasaan, melainkan karena hasrat, iri, dan ketidakmampuan menerima keadilan Tuhan.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Setelah membunuh saudaranya, Qabil diliputi kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa terhadap jasad Habil.

Allah kemudian memperlihatkan seekor burung gagak yang menggali tanah untuk mengubur bangkai gagak lain. Dari peristiwa sederhana itu, Qabil belajar cara menguburkan mayat saudaranya.

Namun pengetahuan itu datang bersama penyesalan. Qabil menyadari bahwa kejahatan tidak hanya merenggut nyawa saudaranya, tetapi juga menghancurkan kemanusiaannya sendiri. Penyesalan itu abadi, tetapi tidak mampu menghapus dosa.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan

Pelajaran tentang Iman dan Kendali Diri

Kisah Habil dan Qabil bukan sekadar cerita tentang konflik keluarga. Ia adalah cermin tentang watak dasar manusia.

Habil mewakili iman, keikhlasan, dan kepatuhan pada ketentuan Tuhan. Qabil mewakili hasrat, ego, dan penolakan terhadap keadilan ilahi.

Dalam konteks kehidupan modern, kisah ini terasa relevan. Banyak konflik sosial, politik, bahkan kekerasan, berakar pada persoalan serupa, di mana kecemburuan, ketidakadilan yang dirasa subjektif, dan kegagalan mengendalikan nafsu.

Tragedi Habil dan Qabil mengingatkan bahwa kejahatan besar sering lahir bukan dari orang asing, melainkan dari lingkar terdekat.

Dan iman, pada akhirnya, bukan hanya soal keyakinan, melainkan kemampuan menahan diri ketika keinginan bertabrakan dengan kebenaran. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com